Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir Resmi Jadi Nomor 1 Dunia

Indonesia patut berbangga. Setelah Marcus Fernaldi/Kevin Sanjaya mantap bercokol di peringkat satu dunia untuk sektor ganda putra, kali ini giliran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mencetak prestasi serupa di sektor ganda campuran. Raihan nomor satu dunia ini adalah kali pertama bagi Owi/Butet sejak mereka dipasangkan delapan tahun lalu, jelang Asian Games China 2010.

 

Kepastian ini muncul setelah Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) merilis resmi peringkat pemain judi poker dari seluruh sektor hari Kamis (3/5) kemarin. Owi/Butet sukses naik dua tingkat dan menjadi yang terbaik di dunia mengalahkan pasangan China, Wang Yilyu/Huang Dongping dan ganda Hongkong, Tang Chun Man/Tse Ying Suet. Bai Owi, peringkat satu dunia ini adalah pertama yang dia rasakan, tapi bagi Butet tidak. Karena perempuan berusia 32 tahun itu sudah pernah merasakannya saat berpasangan dengan Nova Widianto tahun 2010 silam.

 

Owi/Butet berhasil jadi di posisi puncak setelah mereka lolos ke babak perempatfinal Kejuaraan Asia Bulutangkis 2018 pekan lalu. Namun sayang mereka gagal meraih gelar juara karena di partai puncak hari Minggu (29/4), kalah dari Yilyu/Dongping dua set langsung, 17-21, 17-21. Hanya menjadi runner-up, peraih medali emas Olimpiade Brasil 2016 itu mengakui jika permainan mereka memang kurang sabar.

 

Hanya mampu menjadi runner-up, Owi/Butet akhirnya pulang membawa hadiah uang USD 13.300 (sekitar Rp 185 jutaan). Kini Owi/Butet memiliki target baru yakni medali emas Asian Games 2018.

 

Rencana Pensiun Butet Masih Menggantung

 

Sejak berhasil meraih ambisinya yakni medali emas Olimpiade, Butet memang sudah mengisyaratkan untuk pensiun. Namun perempuan berdarah Tionghoa itu menunda keinginannya hingga dua tahun demi membela Merah Putih di Asian Games 2018. Bahkan dilansir detiksport, Butet tampaknya semakin ragu-ragu untuk pensiun. Karena kabarnya perempuan kelahiran Manado itu masih terikat kontrak dengan produsen apparel yang nilainya mencapai miliaran rupiah per tahun.

 

Di samping itu, Owi tampaknya masih enggan melepaskan Butet. Pria berusia 30 tahun itu masih belum siap meskipun fisik Butet semakin menurun sehingga membuatnya harus bekerja keras menutup lapangan. Butet sendiri kabarnya saat ini tengah menggeluti bisnis properti.

 

Meskipun PBSI belum memiliki gambaran siapa calon pendamping Owi saat Butet benar-benar gantung raket usai Asian Games 2018. Apalagi ganda campuran yang diharapkan jadi pelapis mereka, Praveen Jordan/Debby Susanto sudah ‘diceraikan’ karena performa terus menurun di 2017 lalu. Dengan Debby yang hendak pensiun setelah menikah, media bola.com melansir beberapa nama atlet putri calon pengganti Butet seperti Annisa Saufika (24), Gloria Emanuelle Widjaja (24), Melati Daeva Oktaviani (23), Shella Devi Aulia (23) dan Ni Ketut Mahadewi Istirani (23).

 

Owi/Butet Senior Yang Disegani

 

Selain medali emas Olimpiade, Owi/Butet sudah mengoleksi dua gelar juara dunia dan tiga gelar juara All England. Tak heran kalau mereka rupanya patut disegani dan jadi inspirasi para juniornya di PBSI. Salah satunya adalah pasangan ganda campuran junior, Hafiz Faisal/Gloria yang sempat mengalahkan mereka di babak kedua All England 2018 dengan skor 18-21, 21-15 dan 30-29.

 

Bagi Hafiz, Owi adalah sosok yang begitu dewasa, tekun dan gigih yang membuatnya bermain stabil. Sementara bagi Gloria, Butet adalah sosok atlet yang penuh prinsip dan totalitas dengan tingkat fokus sempurna.